Kutai Timur, petikkaltim.com — Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman tegaskan bahwa pembangunan yang ada di Kutim harus selaras dengan pelestarian budaya.
Kutai Timur baru saja melakukan penutupan Erau Adat Pelas Benua, pada Selasa (13/10/2026). Pesta adat ini untuk pertama kalinya terselenggara di Kabupaten Kutai Timur. Agenda yang biasanya hanya tergelar di Kutai Kartanegara ini, akhirnya hadir dan berhasil terselenggara juga di Kutai Timur.
Kutim menyelenggarakan pesta adat ini selama tiga hari, yaitu pada 9 – 13 Oktober 2026, di Rumah Pore, Sangatta Utara. Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Aji Muhammad Arifin, turut menghadiri pesta adat ini.

Kutai Timur mengusung tema “Adat Lestari, Tuah Benua, Etam Berjaya” untuk pesta adat ini, yang selaras dengan tema HUT ke-27 mereka, yaitu “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama”.
Bupati Ardiansyah menyebutkan bahwa Pelas Benua ini bukanlah perayaan semata.
“Erau Adat Pelas Benua bukan sekadar pesta rakyat atau rangkaian kegiatan seremonial. Di dalamnya terkandung warisan sejarah, nilai-nilai adat, penghormatan kepada leluhur, doa, serta harapan akan kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan penuh keberkahan,” jelasnya.
Pelas Benua menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan, menghormati lingkungan, dan merawat ruang hidup bersama. Ia ingin generasi penerus bangsa dapat terus menjaga akar budaya di tengah kemajuan yang ada.
Pembangunan daerah juga harus selaras dengan pelestarian budaya.
“Kemajuan daerah tidak hanya tercermin dari pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Bupati Ardiansyah berharap pesta adat tersebut dapat menjadi momentum pengingat untuk melestarikan budaya dalam kehidupan. (NRV)
petikkaltim.com siap bantu Warga dapatkan berita dan informasi untuk lebih dekat dengan Kalimantan Timur!














