Kalimantan Timur, wacanakaltim.com — Kalau berbicara tentang kerajinan khas Kalimantan Timur, pernahkah kamu mendengar tas anjat rotan? Sekilas, tas ini memang terlihat sederhana. Namun, di balik anyaman rotannya tersimpan nilai budaya, filosofi, dan keterampilan yang telah turun-temurun masyarakat Suku Dayak wariskan.
Tak heran jika tas anjat khas Suku Dayak kini menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak wisatawan cari saat berkunjung ke Kutai Timur Selain tampil unik, setiap tas juga memiliki cerita yang membuatnya semakin istimewa.
Terbentuk dari Teknik Anyaman Tradisional
Berbeda dengan tas produksi pabrik, tas anjat terbuat sepenuhnya secara manual. Pengrajin memulai prosesnya dengan memilih rotan berkualitas, kemudian membelah dan menghaluskannya sebelum dianyam satu persatu hingga membentuk tas yang kokoh.
Manariknya, proses pembuatan satu tas tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Semakin rumit motif yang diinginkan, semakin lama pula pengerjaannya. Itulah mengapa setiap tas anjat memiliki nilai seni yang tinggi dan tidak ada yang benar-benar sama.
Keunikan Motif Tas Anjat
Yang membuat tas anjat khas Suku Dayak semakin menarik adalah motifnya. Beragam motif seperti daun, bunga, lingkaran, naga, hingga pola geometris mereka percaya memiliki makna tentang keberanian, kekuatan, dan keharmonisan dengan alam. Semakin rumit motif yang mereka ciptakan, maka semakin tinggi pula nilai seninya.
Harga tas anjat umumnya berkisar Rp180.000 hingga Rp250.000, tergantung ukuran, tingkat kerumitan motif, dan lama proses pembuatannya. Harga tersebut sebanding dengan keterampilan dan waktu yang para pengrajin curahkan.
Eksistensi Tas Anjat
Di tengah maraknya tas modern, keberadaan tas anjat menghadapi tantangan, mulai dari persaingan dengan produk pabrikan hingga semakin terbatasnya bahan baku rotan. Meski begitu, para pengrajin, komunitas budaya, dan pemerintah daerah terus berupaya melestarikan kerajinan ini melalui berbagai pelatihan bagi generasi muda.
Berdasarkan Kaltimnow, Warjiman selaku pengerajin dari Desa Long Lalang, Kutai Kartanegara, bahkan terus memperkenalkan tas anjat ke pasar nasional hingga internasional meski produksinya masih terbatas.
Lebih dari sekadar tas, anjat merupakan warisan budaya Suku Dayak yang patut kita lestarikan. Jadi, jika berkunjung ke Kalimantan Timur, jangan ragu membawa pulang tas anjat sebagai oleh-oleh sekaligus bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal. [MHA]
petikkaltim.com siap bantu Warga dapatkan berita dan informasi untuk lebih dekat dengan Kalimantan Timur!






